Dunia desain adalah dunia kreativitas yang terus berkembang sejalan dengan pemahaman manusia (seniman) terhadap dunia seni yang digelutinya. Demikian halnya dengan desain atau pola batik Indonesia. Berbagai seniman terus mencari bentuk-bentuk ekspresi baru. Satu desain atau pola batik yang populer akhir-akhir ini adalah batik fraktal.
Fraktal berasal dari kata fractus dalam bahasa Yunani,yang artinya “pecah”. Dalam bidang Fisika,fraktal adalah bentuk geometri yang tidak teratur,namun memiliki kemiripan. Dalam desain,fraktal berarti percabangan atau perpecahan dan pengulangan dari suatu bentuk atau corak.
Istilah batik fraktal kini digunakan untuk mendeskripsikan batik yang corak dan motifnya dibuat dengan komputer. Dengan komputer,desain corak dan motif batik fraktal dapat menjadi lebih rumit dan detail dibanding batik tradisional.
Meski batik fraktal termasuk trend baru ,sebenarnya batik tradisional pun dapat dibilang bermotif fraktal. Motif parang rusak misalnya,adalah perpecahan dari bentuk parang yang diulang secara sejajar.
Seorang desainer batik fraktal dapat mempelajari suatu motif batik tradisional,mencari “rumus’-nya lalu dibuat gambar barunya dengan komputer untuk dirapikan dan dicetak ulang.
Proses pembuatannya relatif sama rumitnya dengan batik tradisional. Pertama pengerjaan desain dilakukan pada komputer,gambar dicetak dan diperbesar,lalu dipindahkan ke kertas kerja untuk kemudian diaplikasikan pada wastra. Selanjutnya wastra dibatik seperti biasa,dengan metode cap atau tulis.
Sejauh ini,batik fraktal dan fisika batik baru dipelajari dan dikembangkan oleh dua badan di Bandung. Bandung Fe Institute,mengeluarkan buku Fisika Batik : Jejak Sains Modern dalam Seni Tradisi Indonesia,juga Pixel People,sekumpulan ilmuwan yang mengembangkan seni generatif dari kebudayaan Indonesia.
Salah satu pelopor batik Fraktal di Indonesia adalah Komarudin Kadiya (40),pemilik Batik Komar,Bandung. Sebagai pengusaha Batik modern,Komarudin tidak hanya mengimprovisasi motif dan corak lama,tapi juga menciptakan ide-ideĀ baru dari inspirasi di sekitar. “Ketika ke Jepang saya terinspirasi bentuk snowflake atau kristal air. Tema lain yang menarik misalnya mollusca atau kerang-kerangan,” ceritanya. Menurut Komarudin,batik fraktal turut memperkaya ragam hias batik. Namun ia tidak menyangkal ada sedikit bentrokan denga generasi terdahulu.”Saya tetap menjunjung tinggi karya-karya batik klasik. Namun pada aplikasinya,semakin banyak orang mencampuradukkan berbagai macam motif batik. Itu adalah bentuk improvisasi masyarakat modern yang harus diapresiasi juga.” paparnya.
