Benarkah Batik Malaysia Kian Berjaya?
Persaingan kepemilikan atas batik antara Indonesia – Malaysia,makin tajam. Awal tahun 2012 ini,negeri jiran ini menggelar pemilihan Putri Batik malaysia yang terbuka diikuti internasional.
Inikah tanda-tanda batik Malaysia kian berjaya? gebrakan itu,pastinya menjadi pemicu Indonesia untuk terus merapatkan strategi,khususnya tentang branding kepemilikan internasional. Sebenarnya,seperti apakah batik Malaysia itu?
Pertanyaan itu,dapat dijawab dengan mengunjungi Musium Tekstil Negara di jalan Sulta Hushamudin Kuala Lumpur. Musium yang menggambarkan perkembangan tekstil sebagai ciri dan gaya hidup masyarakat Malaysia,sejak jaman pra sejarah. Museum terdiri dari empat galeri. Yakni galeri Ratna Sari,galeri Pohon Budi,galeri Teluk Berantai dan galeri Pelangi. Batik Malaysia dapat dilihat dari galeri pelangi,yang memuat koleksi batik ikat celup dan batik canting. “Kami juga menggunakan canting,malam,dan kombinasi kuas,” kata Aminuddin,salah seorang petugas museum. Siang itu (Selasa,20 Desember 2011) sedang berlangsung pameran batik sekaligus workshop. Beberapa perempuan dan laki-laki muda sedang serius melukis batik. Motif flora : Bunga dan Tumbuhan,mendominasi. Batik (lukis) malaysia,menggunakan warna-warni atraktif. Ini mengingatkan batik Pesisiran di negeri kita. Pada almari pajang yang terbuat dari kaca tebal,dapat dilihat perlbagai motif batik Malaysia. Sebagian besar,motif flora dan motif abstrak pada batik ikat.
Namun pada display batik koleksi “Batik Ela” yang terkenal inovatif dalam reka corak,dapat dijumpai motif sosok wayang dengan warna-warna coklat tanah (sogan) sebagaimana batik Yogyakarta atau Solo. Meski sosok wayang itu,tidak berarti salah satu tokoh dalam pewayangan sebagaimana dipahami oleh masyarakat Indonesia.
Motif batik Malaysia juga ditegaskan oleh paparan-paparan dalam museum itu sebagai warisan budaya Melayu. Motif selalu menggambarkan kegembiraan hidup melalui bunyi,irama dan perpaduan sebagai ungkapan kreatif seni persembahan kepada generasi ke generasi penerus. Jika dilihat koleksi tampilan desain busana,secara kuantitas batik Malaysia lebih banyak dikenakan karena kebanyakan warga Malaysia berbusana ala melayu (muslim). Sehingga lebih “tertangkap mata”.
Salah satu hal penting,museum tekstil negara tersebut menunjukkan keseriusan pemerintah Malaysia untuk eksis dalam kepemilikan atas hak intelektual batik. Keseriusan lain,dapat dilihat dari aspek pencitraan yang sangat gencar dan ini menciptakan pasar tersendiri. Aktivitas terbaru,mencari sosok “putri batik Malaysia” yang terbuka untuk internasional.
Jika dipantau dari jumlah dan asal peserta,acara tersebut cukup menarik minat internasional. Termasuk Putri Indonesia,Melissa putri. Meski keikutsertaan Melissa putri,terasa aneh. Karena nampak tidak sensitive dengan strategi pergulatan kepemilikan hak intelektual atas batik. Seharusnyalah para public figure dan pemerintah meningkatkan kepekaan atas jurus-jurus pencitraan batik ke tingkat dunia.
