Archive for the ‘Sejarah’ Category

Motif Batik Meru (3)

Posted on August 3rd, 2010 by admin  |  1 Comment »

Kata Meru, berasal dari Gunung Mahameru. Gunung ini dianggap sebagai tempat tinggal atau singgasana bagi Tri Murti,yaitu Sang Hyang Wisnu,Sang Hyang Brahma dan Sang Hyang Siwa. Tri Murti ini dilambangkan sebagai sumber dari segala kehidupan,sumber kemakmuran,dan segala sumber kebahagiaan hidup di dunia.Oleh karena itu,meru digunakamn sebagai motif kain batik agar si pemakai selalu mendapatkan kemakmuran [...]

Motif Batik Gurda (2)

Posted on August 1st, 2010 by admin  |  No Comments »

Gurda berasal dari kata Garuda. Seperti diketahui,garuda merupakan burung besar. Dalam pandangan masyarakat Jawa,burung garuda mempunyai kedudukan yang sangat penting. Bentuk motif gurda ini terdiri dari dua buah sayap (lar) dan di tengah-tengahnya terdapat badan dan ekor.

Pemaparan Makna Simbolik Motif Batik Tradisional(1)

Posted on July 21st, 2010 by admin  |  1 Comment »

Setiap motif batik mempunyai makna filosofis. Makna-makna tersebut menunjukkan kedalaman pemahaman terhadap nilai-nilai lokal. Dan sampai sekarang nilai-nilai tersebut masih bertahan.
Berikut ini akan dipaparkan beberapa makna filosofis motif batik :
1. Motif Sawat
Sawat berarti melempar. Dahulu kala,orang Jawa percaya dengan para dewa sebagai kekuatan yang mengendalikan alam semesta. Salah satu dewa tersebut adalah Batara [...]

Pengaruh Budaya Asing :Batik Djawa Hokokai

Posted on May 27th, 2010 by admin  |  No Comments »

Perang Dunia II juga membawa keprihatinan dunia batik. Jalur perdagangan dari/ke Eropa dan India terputus. Sandang pangan sulit didapat. Situasi makin parah saat tentara Jepang menduduki Indonesia. Wastra mori dan zat pewarna sintetis,elemen penting dalam i9ndustri batik,sangat langka di pasaran. Banyak pengusaha batik berhentik berproduksi.
Antara 1942-1945 itu, di Jawa ada organisasi untuk membantu Jepang menciptakan [...]

Batik Dari Luar Jawa : (Kalimantan)

Posted on May 23rd, 2010 by admin  |  No Comments »

Beberapa kain memiliki cara pewarnaan yang serupa dengan batik,yaitu dengan pencelupan rintang. Menurut buku batik dan Mitra,Nian S. Djumena perbedaanya terletak pada bahan pewarna. Batik menggunakan malam. Sedangkan jenis kain lain seperti simbut,jumputan dan sasirangan,menggunakan berbagai jenis bahan pewarna alami lain.
Wastra sasirangan adalah salah satu wastra adat khas suku Banjar. Menurut mitos,pada abad ke [...]