Mengenal Batik Afrika
Ada beragam tekstil di berbagai belahan Afrika,salah satunya adalah batik. Tidak hanya Indonesia,ternyata Afrika Selatan juga memiliki kain batik yang khas. Teknik membatik yang paling maju dapat ditemukan di Nigeria,dimana orang-orang Yoruba membuat kain Adire. Ada 2 metode pewarnaan dengan lilih yang digunakan. Adire eleso yang memakai teknik ikat serta jahit dan adire eleko yang memakai teknik gumpalan pati. Gumpalan ini biasanya terbuat dari tepung tapioka,beras,tawas atau tembaga sulfat yang dididihkan bersama sehingga menghasilkan gumpalan tebal dan halus. Suku Yoruba di Afrika Barat menggunakan gumpalan pati ini sebagai lapisan pelindung warna,sementara masyarakat Senegal menggunakan gumpalan beras. Gumpalan-gumpalan ini digunakan dalam dua cara yang berbeda.
Sketsa digambar dengan stensil logam tipis yang fleksibel atau perangkat yang terbuat dari kayu. Alat ini memungkinkan terbentuknya pola berulang yang akurat. Pekerjaan ini biasanya dilakukan oleh kaum pria. Proses selanjutnya dilakukan oleh kaum perempuan,yaitu kain tradisional akan didesain lebih lanjut dengan menggunakan peralatan sederhana seperti bulu,tongkat tipis,sepotong tulang halus atau logam dan alat sisir dari kayu.
Turun Temurun
Pola kain biasanya merupakan tradisi keluarga yang diturunkan dari ibu ke anak perempuan sebagai industri rumahan. Kain ini biasanya dibagi menjadi bujur sangkar atau segi empat panjang dan desainnya merupakan kejadian sehar-hari,ukiran,kegiatan,atau gambar tradisional sejarah suku.
Sebuah kain eleko biasanya terdiri dari dua sampai dua setengah yard potongan kain dijahit menyatu. Biasanya proses pencelupan dilakukan bersama-sama agar lebih efektif. Pewarna tradisional adalah warna nila dari tanaman yang tumbuh di seluruh Afrika. Di banyak tempat,tanaman ini sekarang dibudidayakan dengan varietas yang berbeda sehingga menghasilkan warna biru tua. Setelah kering,kain tersebut dicelup dalam pot tanah liat besar atau galian lubang. Setelah dikeringkan,gumpalan akan mengelupas dan menghasilkan warna putig atau biru muda.
Kain yang biasanya digunakan adalah kain katun,walau kain yang lebih berharga adalah kain sutera alami. Beberapa tahun terakhir ,terdapat kain lain menggunakan desain afrika yang diproduksi di Inggris (baju manchaster) dan Belanda. Kain yang diproduksi masal ini merupakan buatan mesin. Proses produksi yang sama kini dilakukan di banyak negara afrika.
Selain itu,ada juga kain lumpur. Kain ini dibuat oleh orang-orang Bamana Mali. Kain tersebut dicelup warna kuning dan dilapisi lumpur sungai. Warna kuning “meredup” lalu berubah menjadi cokelat gelap. Lumpur kemudian dibersihkan sehingga kain kembali ke warna aslinya. Proses tersebut menghasilkan kain berpola cokelat dan putih dengan karakteristik gelap.
