
Seni wastra batik berkembang di keraton Jawa. Pola dan motif dirancang kalangan istana,maka usaha pembatikan pun mekar di luar tembok istana. Dari minat dan keluasan pasar itu,muncul saudagar-saudagar batik.
Luasnya pemakaian wastra batik membuat pihak keraton mengeluarkan larangan pada masyarakat untuk menggunakan sejumlah pola dan motif oleh masyarakat.
Baik di keraton Surakarta maupun Yogyakarta,aturan ini relatif sama. Ragam hias terlarang pada prinsipnya bercorak diagonal. Beberapa ilmuwan mengaitkan ini dengan dampak yang ditimbulkan design diagonal atau garis miring. Hingga kini,tabu di kalangan masyarakat Solo untuk menggunakan parang rusak barong,cemukiran,dan udan liris. Di Yogyakarta,parang rusak barong juga merupakan pola larangan,selain sawat gundha dan semen agung. Masihh ada banyak variasi pola yang hanya boleh digunakan raja dan kalangan tertentu di dalam tembok keraton.
Di antara masyarakat sendiri ada larangan untuk menggunakan pola tertentu di waktu tertentu. Dalam upacara perkawinan adat Jawa Tengah misalnya,motif parang rusak tidak akan pernah dikenakan pengantin,karena secara tidak langsung si pemakai seperti mengharapkan perkawinannya akan rusak atau hancur. Demikian halnya dengan parang curiga (berdasar bentuk stilasi keris) yang dinilai terlalu tajam dan berbahaya bagi kebahagiaan hari perkawinan.
Uniknya di Jawa Barat,larangan seperti ini tidak berlaku. Kerap kali tamu dari Jawa Tengah terheran-heran menyaksikan pasangan mempelai Jawa Barat mengenakan wastra bercorak parang rusak atau bentuk parang-parang lainnya di hari pernikahannya.
Pada upacara perkawinan adat Jawa di luar dinding istana,mempelai wanita dan pria mengenakan batik bercorak sido mukti agar nasib baik menghampiri mereka (sido mukti mengandung arti “semoga anda sejahtera). Variasi lain dalam pola sido adalah motif sido luhur (”semoga anda diagungkan),sido asih (semoga anda dimuliakan) dan sido wirasat (’pertanda baik’). Desain-desain sido ini biasanya dibuat sawitan (berpasangan) untuk suami istri.
Di Jawa Tengah,untuk upacara pemakaman,masyarakat umumnya memilih wastra batik berwarna gelap,semisal yang bermotif slobog atau pakis. Konsep warna ini berbeda dari konsep yang dianut komunitas Cina di Indonesia yang menggunakan warna putih untuk menyatakan dukacita atau berkabung. Dalam wastra batik,warna putih dipadu dengan warna biru bernada lembut hingga kusam,tetapi biru cerah-tajam dihindari. Untuk pengantin wanita Cina,wastra batiknya berwarna biru putih dengan motif angsa. Biru putih perlambang duka karena pengantin wanita akan meninggalkan rumah orang tuanya,sedangkan angsa adalah perlambang kebahagiaan dalam perkawinan. Ada pula pola batik yang dipercaya dapat menolak bala,kejahatan atau penyakit. Antara lain corak si Juring dari Indramayu yang dipercaya memiliki kekuatan menyembuhkan penyakit. Demikian pula dengan motif geringsing dari Jawa Tengah dan Jawa Timur,yang berasal dari gabungan kata gering (sakit) dan sing (negatif).
