Tekelan,Bahan Baku Pewarna Alam Batik

Tekelan,tanaman gulma semak bunga putih (Cromolaena odorata) species Chromolaena odorata (L) King dan HE Robins,menyimpan banyak manfaat. Bahkan ketersediaannya sangat melimpah. Namun pemanfaatannya belum optimal baik sebagai tanaman pencegah hama,insektisida nabati,maupun pewarna alam batik warna kuning. Beberapa daerah di Indonesia menyebut tanaman ini dengan tekelan. Bahasa inggris disebut Jack in The bush. Sedangkan,bahasa daerah disebut berbeda,marenggo,randha lenguk,randha semaya (Jawa).

Hal tersebut diungkapkan oleh Dwi Suheryanto,Peneliti Balai Besar Kerajinan dan Batik,Badan Pengkajian Kebijakan Iklim dan Mutu Industri-Kementrian Perindustrian RI,Jl Kusumanegara 7,Yogyakarta saat menunjukkan proses pembuatan pewarna alam tanaman tekelan.
Dwi Suheryanto mengatakan,klasifikasi tanaman tersebut,Kingdom plantae (tumbuhan) super divisi permatophyta (menghasilkan biji),divisi magnoliophyta (tumbuhan berbunga),kelas magnoliopsida (berkeping dua/dikotil),sub kelas asteridae,ordo asterales,famili asteraceae,genus Chromolaena,species Chromolaena odorata (L) King dan HE Robins. Gulma merupakan tumbuhan perdu berkayu tahunan yang batangnya membentuk cabang-cabang sekunder. Ciri khas tanaman ini daun berbentuk segitiga,tiga tulang daun terlihat jelas. Bila diremas tera
sa bau menyengat. Cabang berhadapan,bunga majemuk berwarna putih kotor. Pengembangbiakan tekelan sangat mudah dan cepat,baik secara vegetatif maupun secara generatif,biji gulma halus,ringan dan jumlah banyak dapat disebarkan oleh angin,vegetatif terjadi karena bagian batang yang ada di dalam tanah akan membentuk tunas-tunas baru dan akan muncul kepermukaan tanah menjadi perdu.
Tanaman tekelan,masih menjadi penting di perkebunan,kehutanan,saluran pengairan dan padang penggembalaan. Gulma semak bunga putih tak dikehendaki dalam suatu area tertentu karena dianggap mengganggu tanaman pertanian maupun rumput untuk pakan ternak. Sistem pengakarannya bercabang banyak dan adventif sehingga mampu menyerap unsur N yang terikat kuat dalam tanah. Permukaan bagian bawah daun yang halus dan bagian atas kasar memungkinkan air tanah diserap dan disimpan di daun serta bagian hijau lainnya.

Dari Alam

Zaman dahulu hingga saat ini pewarna batik berasal dari alam baik dari tumbuh-tumbuhan maupun binatang. Macam warna yang digunakan terbatas,warna soga (coklat) dan biru (nila/indigo),dan pink (kuning-kemerahan) dari akar mengkudu (pace). Seiring kemajuan zaman dan teknologi,pewarna sintetis (zat warna tekstil masuk ke Indonesia yang awalnya digunakan untuk mewarnai kain pada perusahaan tekstil akhirnya berimbas untuk pewarnaan batik dan tenunan. Isu lingkungan yang terus digencarkan berkait dengan produk yang ramah lingkungan sangat berpengaruh dan menentukan suatu produk akhir. Penggunaan zat warna sintetis di dalam pembatikan merupakan kebutuhan yang tidak dapat dibendung ,mengingat kecepatan,kemudahan dan kestabilan serta warna yang dihasilkan beraneka macam. Namun dampak negatif berpengaruh terhadap lingkungan,pekerja dan pengguna. Khususnya zat warna yang sintetis yang mengandung karsinogenik dapat mempengaruhi kesehatan pengguna dan lingkungan,suatu kondisi yang kontradiktif.
Ketelan sangat mudah ditemukan hampir diseluruh daerah. Mengingat mudahnya penyebaran penyebaran tanaman gulma Indonesia,sehingga tanaman ini merupakan sumber bahan baku pewarna alam yang melimpah.Karena itu potensi ini bisa menjadi peluang menjanjikan sebagai pengganti pewarna sintetis yang ramah lingkungan.Tanaman ini menghasilkan warna primer,yaitu warna kuning dari kayu tegeran atau pohon kayu nangka yang relatif sukar diperoleh dan mahal. Proses pengambilan warna dapat dilakukan dengan cara sederhana. Proses dengan cara perebusan,setiap 1 kg bahan (daun,ranting,dan batang) tekelan direbus dengan air sebanyak air sebanyak 8 liter air hingga menjadi/tersisa 3-4 liter. Kemudian disaring dipisahkan dari ampasnya. Hasil larutan ekstraksi pewarna alam ini dapat digunakan sebagai pewarna pada proses pewarnaan batik.
Sehingga dengan keberadaan tanaman gulma yang ketersediaannya melimpah,akan menjadi lumbung sumber bahan baku untuk proses pewarna batik maupun benang pada proses tenun tradisional,khususnya untuk warna kuning.

This entry was posted on Friday, February 10th, 2012 at 8:29 pm and is filed under Berita, Serba Serbi, Tips. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply